<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099</id><updated>2011-08-07T04:55:48.836-07:00</updated><title type='text'>wow</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099.post-2441586998987928888</id><published>2010-11-09T04:46:00.001-08:00</published><updated>2010-11-09T04:46:08.384-08:00</updated><title type='text'>elvina</title><content type='html'>Namaku Chepy, 22 tahun, mahasiswa di sebuah universitas swasta ternama  di Jakarta.&lt;br /&gt;Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun !.   Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku ( Dedy ) mengajakku   menemaninya transaski dengan temannya ( Gunawan ). Saya jelaskan saja   perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia   seorang yang rajin dan ulet termasuk dalam hal berbisnis walaupun dia   masih kuliah. Gunawan adalah teman kenalannya yang juga seorang anak   mantan pejabat tinggi yang kaya raya ( saya tidak tahu apakah kekayaan   orang tuanya halal atau hasil korupsi ! ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu Gunawan menawarkan beberapa koleksi lukisan dan   patung ( Gunawan sudah mengetahui perihal bisnis Dedy sebelumnya ) milik   orang tuanya kepada Dedy, koleksi lukisan dan patung tersebut berusia   tua. Dedy tertarik tapi dia membutuhkan kendaraan saya karena   kendaraannya sedang dipakai untuk mengangkut lemari ke Bintaro, oleh   karena itu Dedy mengajak saya ikut dan saya pun setuju saja. Perlu saya   jelaskan sebelumnya, Gunawan menjual koleksi lukisan dan patung   tersebut, oleh Dedy diperkirakan karena Gunawan seorang pecandu putaw   dan membutuhkan uang tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya ( hari Minggu ), saya dan Dedy berangkat menuju rumah   Gunawan di kawasan Depok. Setelah sampai di depan pintu gerbang 2 orang   satpam berjalan ke arah kami dan menanyakan maksud kedatangan kami.   Setelah kami jelaskan, mereka mengijinkan kami masuk dan mereka   menghubungi Gunawan melalui telepon. Saya memarkir kendaraan saya dan   saya mengagumi halaman dan rumah Gunawan yang amat luas dan indah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt; Betapa kayanya orang tua Gunawan&lt;/b&gt;” bisik dalam hatiku. Kami  harus menunggu sebentar karena Gunawan sedang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu, kami berbicara dengan satpam. Dalam pembicaraan itu,   seorang satpam menceritakan kalau Gunawan itu seorang playboy dan suka   membawa wanita malam-malam ke rumahnya ketika orang tuanya sedang pergi.   Setelah menunggu selang 10 menit, akhirnya Gunawan datang ( saya yang   baru pertama kali melihatnya harus mengakui bahwa Gunawan memiliki  wajah  yang amat rupawan, walau saya pun seorang lelaki dan bukan  seorang  homo! ). Dedy memperkenalkan saya dengan Gunawan. Setelah itu  Gunawan  mengajak Dedy masuk ke rumah untuk melihat patung dan lukisan  yang akan  dijualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung apakah saya harus mengikuti mereka atau tetap duduk di pos   satpam. Setelah mereka berjalan sekitar 15 meter dari saya, seorang   satpam mengatakan sebaiknya kamu ( saya ) ikut mereka saja daripada   bosan menunggu di sini ( pos satpam ). Saya pun berjalan menuju   rumahnya. Ketika saya masuk , saya tidak melihat mereka lagi. Saya hanya   melihat sebuah ruangan yang luas sekali dengan sebuah tangga dan   beberapa pintu ruangan. Saya bingung apakah saya sebaiknya naik ke   tangga atau mengitari ruangan tersebut ( sebenarnya bisa saja saya   teriak memanggil nama Dedy atau Gunawan tapi tindakan itu sangat tidak   sopan ! ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari ruangan tersebut dengan   harapan dapat menemui mereka. Setelah saya mengitari, saya tetap tidak   dapat menemukan mereka. Tapi saya melihat sebuah pintu kamar yang   pintunya sedikit terbuka. Saya mengira mungkin saja mereka berada di   dalam kamar tersebut. Lalu saya membuka sedikit demi sedikit pintu itu   dan betapa terkejutnya saya ketika saya melihat seorang anak perempuan   sedang tertidur dengan daster yang tipis dan hanya menutupi bagian atas   dan bagian selangkangannya, saya bingung harus bagaimana !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar otak saya yang sudah kotor melihat pemandangan paha yang indah,   akhirnya saya masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu itu. Saya   melihat sekeliling kamar itu, kamar yang luas dan indah, beberapa helai   pakaian SLTP berserakan di tempat tidur, dan foto anak tersebut dengan   Gunawan dan seorang lelaki tua dan wanita tua ( mungkin foto orang   tuanya ). Anak perempuan yang sangat cantik, manis dan kuning langsat !   lalu saya melangkah lebih dekat lagi, saya melihat beberapa buku   pelajaran sekolah dan tulisan namanya : Elvina kelas 1 C. Masih kelas 1 !   berarti usianya baru antara 11-12 tahun. Lalu saya memfokuskan   penglihatan saya ke arah pahanya yang kuning langsat dan indah itu !. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngin rasanya menjamah paha tersebut tapi saya ragu dan takut. Saya   menaikkan pandangan saya ke arah dadanya dan melihat cetakan pentil susu   di helai dasternya itu. Dadanya masih kecil dan ranum dan saya tahu  dia  pasti tidak memakai pakaian dalam ( BH atau kutang ) di balik  dasternya  itu !.&lt;br /&gt;Wajahnya sangat imut, cantik dan manis ! Akhirnya saya memberanikan   diri meraba pahanya dan mengelusnya, astaga….mulus sekali ! Lalu saya   menaikkan sedikit lagi dasternya dan terlihatlah sebuah celana dalam (   CD ) warna putih. Saya meraba CD anak itu dan menarik sedikit karet   CDnya , lalu saya mengintip ke dalam,…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga ! tidak ada bulunya ! Jantung saya berdetak kencang sekali dan   keringat dingin mengalir deras dari tubuh saya. Lalu saya mencium Cdnya,   tidak ada bau yang tercium. Lalu saya menarik sedikit lagi dasternya  ke  atas dan terlihatlah perut dan pinggul yang ramping padat dan mulus   sekali tanpa ada kotoran di pusarnya ! Luar biasa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak porno saya pun sangat kreatif juga, saya memberanikan diri untuk   menarik perlahan-lahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah   sebagian dadanya yang mulus dan putih ! ingin rasanya langsung   memenggangnya, tapi saya bersabar, lalu saya menarik lagi tali dasternya   ke bawah dan akhirnya terlihatlah pentil Elvina yang bewarna kuning   kecoklatan ! Jantung saya kali ini terasa berhenti ! Sayapun merasa   tubuh saya menjadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya dan memencet   dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan dan   sedikit lama juga, sementara Elvina sendiri masih tertidur pulas.   Setelah puas, saya menjilat dan mengulum pentilnya, terasa tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar otakku yang sudah gila, saya pun nekat menarik seluruh dasternya   perlahan kearah bawah sampai lepas, sehingga Elvina kini hanya   mengenakan celana dalam ( CD ) saja ! Saya memandangi tubuh Elvina   dengan penuh rasa kagum. Tiba-tiba Elvina sedikit bergerak, saya kira ia   terbangun, ternyata tidak, mungkin sedang mimpi saja. Saya mengelus   tubuh Elvina dari atas hingga pusar/perut. Puas mengelus-elus, saya   ingin menikmati lebih dari itu ! Saya menarik perlahan-lahan CD Elvina   ke arah bawah hingga lepas. Kini Elvina telah telanjang bulat ! Betapa   indahnya tubuh Elvina ini , gadis kelas 1 SLTP yang amat manis, imut dan   cantik dengan buah dada yang kecil dan ranum serta vaginanya yang  belum  ada bulunya sehelaipun !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya mengelus bibir vaginanya yang mulus dan lembek dan sayapun   menciumnya. Terasa bau yang khas dari vaginanya itu ! Dengan kedua jari   telunjuk saya, saya membuka bibir vaginanya dengan perlahan-lahan ,   terlihat dalamnya bewarna kemerah –merahan dengan daging di atasnya .   Saya menjulurkan lidah saya ke arah vaginanya dan menjilat-jilat   vaginanya itu. Saya deg-degan juga melakukan adegan itu. Saya tahu   tindakan saya bisa ketahuan olehnya tapi kejadian ini sulit sekali untuk   dilewatkan begitu saja ! Benar dugaan saya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat saya sedang asyiknya menjilat vaginanya, Elvina terbangun !   Saya pun terkejut setengah mati ! Untung Elvina tidak teriak tapi hanya   menutup buah-dadanya dan vaginanya dengan kedua tangannya. Mukanya   kelihatan takut juga. Elvina lalu berkata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt; Siapa kamu, apa yang ingin kamu lakukan ?&lt;/b&gt;”. Saya langsung  berpikir keras untuk keluar dari kesulitan ini ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya mengatakan kepada Elvina: “ &lt;b&gt;Elvina, saya melakukan ini  karena Gunawan yang mengijinkannya !&lt;/b&gt;”, kataku yang berbohong. Elvina  kelihatan tidak percaya lalu berkata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Tidak mungkin, Gunawan kakakku &lt;/b&gt;!”. Pandai juga dia ! Tapi saya  tidak menyerah begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakan lagi “ &lt;b&gt;Elvina, saya tahu Gunawan kakakmu tapi dia   punya hutang yang amat besar pada saya, apakah kamu tega melihat kakakmu   terlibat hutang yang amat besar ? Apakah kamu tidak kasihan pada   Gunawan ?, kalau dia tidak melunasi hutangnya, dia bisa dipenjara ”&lt;/b&gt;  kataku sambil berbohong . Elvina terdiam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha menenangkan Elvina sambil mengelus rambutnya. Elvina   tetap terdiam. Sayapun dengan lembut menarik tangannya yang menutupi   kedua buah dadanya. Dia kelihatannya pasrah saja dan membiarkan   tangannya ditarik oleh saya. Terlihat lagi kedua buah dadanya yang indah   dan ranum itu ! Saya mencium pipinya dan berkata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt;Saya akan selalu mencintaimu, percayalah !&lt;/b&gt;”. Saya merebahkan   tubuhnya dan menarik tangannya yang lain yang menutupi vaginanya.   Akhirnya dia menyerah dan pasrah saja terhadap saya. Saya tersenyum   dalam hati. Saya langsung buru-buru membuka seluruh pakaian saya untuk   segera menuntaskan “ tugas “ ini ( maklum saja, kalau terlalu lama,   transaksi Gunawan dengan Dedy selesai, sayapun bisa ketahuan,   ujung-ujungnya saya bisa saja terbunuh ! ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung mencium mulut Elvina dengan rakus. Elvina kelihatannya   belum pernah ciuman sebelumnya karena dia masih kaku. Lalu saya mencium   lehernya dan turun ke arah buah dadanya. Saya menyedot kedua buah   dadanya dengan kencang dan rakus dan meremas-remas kedua buah dadanya   dengan sangat kuat, Elvina kelihatannya kesakitan juga dengan remasan   saya itu, Sayapun menarik-narik kedua pentilnya dengan kuat ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt;Sakit kak&lt;/b&gt; “ kata Elvina. Saya tidak lagi mendengar rintihan   Elvina. Saya mengulum dan menggigit pentil Elvina lagi sambil tangan   kanan saya meremas kuat pantat Elvina. Setelah puas, saya membalikkan   badan Elvina sehingga Elvina tengkurap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jilat seluruh punggung Elvina sampai ke pantatnya. Saya remas   pantat Elvina kuat-kuat dan saya buka pantatnya hingga terlihat anusnya   yang bersih dan indah. Saya jilat anus Elvina, terasa asin sedikit !   Dengan jari telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Elvina kelihatan   merintih atas tindakan saya itu. Saya angkat pantat Elvina, saya remas   bagian vagina Elvina sambil ia nungging ( posisi saya di belakang Elvina   ). Elvina sudah seperti boneka mainan saya saja !. Setelah puas , saya   balikkan lagi tubuh Elvina sehingga ia terlentang, saya naik ke atas   kepala Elvina dan menyodorkan penis saya ke mulut Elvina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt; Jilat dan kulum !&lt;/b&gt;” kataku. Elvina ragu juga pada awalnya, tapi  saya terus membujuknya dan akhirnya ia menjilat juga.&lt;br /&gt;Penis saya terasa enak dan geli juga dijilat olehnya, seperti anak  kecil yang menjilat permen lolipopnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Kulum !&lt;/b&gt;” kataku, dia lalu mengulumnya. Saya dorong pantat saya   sehingga penis saya masuk lebih dalam lagi, kelihatannya dia seperti mau   muntah karena penis saya menyentuh kerongkongannya dan mulutnya yang   kecil kelihatan sulit menelan sebagian penis saya sehingga ia sulit   bernapas juga. Sambil ia mengulum penis saya, tangan kanan saya meremas   kuat-kuat payudaranya yang kiri hingga terlihat bekas merah di   payudaranya.&lt;br /&gt;Saya langsung melepaskan kuluman itu dan menuju ke vaginanya. Saya   jilat vaginanya sepuas mungkin, lidah saya menusuk vaginanya yang merah   pink itu lebih dalam, Elvina menggerak-gerakkan pantatnya kiri-kanan,   atas-bawah, entah karena kegelian atau mungking ia menikmatinya juga.   Sambil menjilat vaginanya, kedua tangan saya meremas-remas pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya ingin menjebol vaginanya. Saya naik ke atas tubuh Elvina,   saya sodorkan penis saya ke arah vaginanya. Elvina kelihatan ketakutan   juga, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;b&gt;Jangan kak, saya masih perawan !&lt;/b&gt;”, Nah ini dia ! saya membujuk   Elvina dengan rayuan-rayuan manis. Elvina terdiam pasrah. Saya tusuk   penis saya yang besar itu yang panjangnya 18 cm dan diameter 6 cm ke   vaginanya yang kecil sempit tanpa bulu itu ! Sulit sekali awalnya tapi   saya tidak menyerah. Saya lebarkan kedua kakinya hingga ia sangat   mengangkang dan vaginanya sedikit terbuka lagi, saya hentakkan dengan   kuat pantat saya dan akhirnya kepala penis saya yang besar itu berhasil   menerobos vaginanya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elvina mencakar tangan saya sambil berkata “ &lt;b&gt;sakitttt !!!&lt;/b&gt;” saya   tidak peduli lagi dengan rintihan dan tangisan Elvina ! Sudah sepertiga   penis saya yang masuk. Saya dorong-dorong lagi penis saya ke dalam   lobang vaginanya dan akhirnya amblas semua ! Dan seperti permainan sex   pada umumnya, saya tarik-dorong, tarik-dorong, tarik-dorong,   terus-menerus ! Elvina memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya.   Tangan saya tidak tinggal diam, saya remas kedua buah dadanya dengan   sangat kuat hingga ia kesakitan dan saya tarik-tarik pentilnya yang   kuning kecoklatan itu kuat-kuat ! Saya memainkan irama cepat ketika   penis saya menghujam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru 5 menit saya merasakan cairan hangat membasahi penis saya, pasti   ia mencapai puncak kenikatannya. Setelah bermain 15 menit lamanya, saya   merasakan telah mencapai puncak kenikmatan, saya tumpahkan air mani  saya  kedalam vaginanya hingga tumpah ruah. Saya puas sekali ! Saya  peluk  Elvina dan mencium bibir, kening dan lehernya. Saya tarik penis  saya dan  saya melihat ada cairan darah di sprei kasurnya. Habislah   keperawanannya !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya lekas berpakaian karena takut ketahuan. Saya ambil   uang 300.000 rupiah dari saku saya dan saya berikan ke Elvina , &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;b&gt;Elvina, ini untuk uang jajanmu, jangan bilang ke siapa-siapa yah &lt;/b&gt;“,   Elvina hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala dan menutupi kedua   buah dadanya dengan bantal. Saya langsung keluar kamar dan menunggu  saja  di depan pintu masuk. Sekitar 10 menit kemudian Gunawan dan Dedy  turun  sambil menggotong lukisan dan patung. Ternyata mereka  transaksinya bukan  hanya lukisan dan patung saja tapi termasuk beberapa  barang antik  lainnya. Pantasan saja mereka lama !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya dan Dedy permisi ke Gunawan dan ke kedua satpam itu. Kami   pergi meninggalkan rumah itu. Dedy puas dengan transaksinya dan saya   puas telah merenggut keperawanan adik Gunawan. Ha ha ha ha ha, hari yang   indah dan takkan terlupakan !&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/431037749882370099-2441586998987928888?l=bangsis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/2441586998987928888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/elvina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/2441586998987928888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/2441586998987928888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/elvina.html' title='elvina'/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099.post-483010111112025936</id><published>2010-11-09T04:45:00.001-08:00</published><updated>2010-11-09T04:45:18.608-08:00</updated><title type='text'>imut</title><content type='html'>Kisah ni berawal dari kesukaanku yang suka chatting. Pada waktu itu aku   elihat nama yaitu Lina. tanpa basa-basi aku berkenalan dengan dia. kita   ngbrol2 panjang lebar sampai2 perkataan kita tidak terkontrol. Lalu  aku  bertanya apakah kamu pernah phone sex? dan dya pun menjawab “ngpain   phonesex gak enak ya kan lebih enak langsung ML gtu..”. Wah anak ini   ternyata hebat juga ya dalam hatiku. Lalu kita saling bertukaran No.tlp.   dan kita pun saling bercerita2. lalu aku rayu2 dya agar mau aku ajak   ML. Pertamanya dya gak mw tp aku rayu2 ternyata mau dan kita janjian   bertemu di salah satu Monumen di tengah Kota Surabaya. Wah ternyata   chattingQ gak sia2 cz dia anknya cantik, manis, dan yang pasti toketnya   pas untuk tangan yang pengen remes toketnya yang imut itu. Lalu  akhirnya  qta berdua mencari hotel dan ketemulah hotel tersebut yang  berada  disamping salah satu tempat Mall yang terbesar di Surabaya. Lalu  kita  check in langsung dan masuk kamar. Pertama dia menelpon seorang  cowok  dan ternyata itu cowoknya. Alamak aku akan ML dengan cewek yang  sudah  pnya cowok tapi gpplah yang penting aku bisa ML ma dia. Dhit Knp  kok  bengong gtu ayo lepas bjumu itu kita mandy bareng gtu”ujar Lina  yang  udah ga sbar itu. Tanpa basa-basi dya copot semua pakainQ dan q  pun bgil  lalu q pun juga ikut mncopoti semua pkaian dia tanpa tersisa  satupun.  dan WAWW. . .toketnya yang imut itu mengundang nafsu birahiQ  yang sudah  mulai naik. Lalu tangan nakalQ nie ga bsa di ajak kompromi  dan q pun  lgsg meremas toketnya dan dia langsung kaget. “adhit kan kita  mau mandi  ntar az ya qta maennya”ujar Lina. yawdah qt lgsg az mandi  berdua. aku  ambilkan sabun lalu aku gsok2kan di toketnya yang putingnya  itu uwdah  tegang bgd yang berwarna coklat itu.”ahhhh sssstttt Geli  aDhitQ  sayang…..aaaaahhhhhhhhh …..ooogghhh…sssssttt…”erangan Lina  semakin  menjadi ketika sabun itu q usap2 ke tempe lina yang ckup chubby  tersebut  aaaahhhh….enK bgd nie dit…apalgi klo tgkatmu masuk pzty enak  bgd  dhit….aaahhhhh….ssssssssttttttt….Lalu dia juga gak sabar dia pun  lgsg  menyabuni tgkatQ yang uwdah tegang nie…aaahhh…..eeennnkk bgd   sayang…aaaahhhh”erangan desahanQ. Setelah qta selesai mdy qta sma2   mngeringkan bdan qta yg bsah abiz ndy itu…&lt;br /&gt;Lalu qta sama2 ke tmpt tdur dalam keadaan bugil terus dia rayu2 q dengan   tgnnya yang mengelus2 badanQ. Tanpa byk bicara lgsg q daratkan kecupan   dibibirnya dan qt saling bercumbu. Lalu q ciumin kelehernya lalu  kebawah  terus mnuju toketnya yang imut itu.   aaaauuuu,,,,……..ssssslllluuupppzzzz….ssssllllluuup  ppzzzz….q sedot2   putingnya itu. aaahhhhh adhit nakal tpi enk bgd kok   aaaaaaaaahhhhhhhhhh…..sssssssttttttt desahannya yang begitu menggoda.   Adhit sayang emut2 terus ya n remes2 juga toket lina ni. lalu q pun   meremas kedua toket tersebut yang sangat kencang. Lalu kita merubah gaya   menjadi 69. Dia pun lgsg mengulum tgkatQ dengan   nafsunya..aaaauuuummmm….ssslllluupppzzz.. gmn enk ga sayang?? Q pun   jawab enk bgd say. Lalu q pun tidak mw kalah q emut2 juga tempenya itu   yang uwdah bsah dengan cairan yg kluar dari vagina   lina..ssssssllllluuuuuuuppppppppzzzzzzzz…….ssslllo  uuuppzzzz….aaahhhhhh   geLi yank desahan Lina. Lalu qt uwdah puas saling emut. Lgsg deh dia   terbaring dan lgsg az tgkatQ nie Q tancapkan ke tempenya. Pelan-peLan ya   sayank” tanya Lia. Iya LinaQ sayank Q pelan2   kok.SSSlleeppzzz…..ssllleepppzzz aaahhh ckit sayyy…erangan Lina. Wah   ternyata tempenya smpit bgd jd q harus pelan2 mskin tgkatQ   nie…aaaahhhhhh….ooooggghhhh… tpi enk kok say agak cepat ya yank…”ujar   Lina. lalu q percepat sdokanQ dan dia pun mengerang2 tapi nikmat   bgd…aaaahhhhh…tttrrruuussss yyyaannkk enkk bgd kkokk   yyaannkk….aaahhhhhhhh….yyeeeesss…..aaahhhhh…ooowww  wgggghhh…”desahan  Lina  yang uwdah mengebu-gebu. Yank kita gani gaya yank Q diatas chayank   dibwah ya??”ujar Lina. q jwab iya. Q sebenarnya pengen dia az yang   kreatif gitu. Lalu dia naik diatasQ dan TgkatQ dia gsek2kin ke tempenya   yg bsah itu…aaaaaahhhhhh….oooowwwgggghhhh….Q genjot ya   sayank…..aaaahhhhhh….yyeeesss. . . yyeeesssss…..aahhhhhh gmn yank   genjotan Lina enk kan?”tanya Lina. Iya enk bgd terus az ssaayyyy…smbil   goyang ya..”tanyaQ.  aaaaahhhhhh……..oooowwwwhhhh…oooooooooooooooogggggg   ghhhhh……….yyeeeessssssssssssss………mpok….pok…..pok  bunyi pantat Lina  bertabrakan dengan tubuhQ  aaaahhhhhh….ooooooowwwwgggghhhhh…..Lina  ssaayyyaannkk q mw KKlluuaarr  nniieee…. .Kluarin didalam jga gpp kok  yank…Tanpa bisa q bendung spermaQ  yang panas itu akhirnya kluar seiring  orgasme Lina  aaaaaaaaahhhhhhh….kluar yaannkk… iya Q jg kluar   aaaaahhhhhhh………ooooooooooowwwwwwwwwgggggghhhhhhhh…  . Dia beranjak dari   gaya qta itu dan dia lgsg mengulum batang TgkatQ yang masih ad  spermanya   itu….aaauuuuuuummmmmmm……..sssssssssllllluuuuuupppp   pppppppppppzzzzz…..ssssllluuuppzzzz…sssslllluuuppp  pzzz…  dan Akhirnya  pun kita lemas. Adhit ternyata hebat ya daripada co.Q. Q  puas banged Ml  ma adhit”ujar Lina.Q juga enk bgd ML ma Lina. Lalu qt  tertidur dalam  keadaan masih btlanjang bulat. Lalu wktu sudah  menunjukkan jam 7 Mlm  dan q harus cpt2 ke kampus soalnya ada kuliah. dan  Lina pun terbangun  dan qt sama2 berpaikain lalu mngglkan hotel tersebut  dengsn perasaan  seng. Adhit kpn2 Qt maen Lgy ya?”tanya Lina padaQ. Oh  tentu saja qt  kpn2 maen lagi kok. Dan sampe skg pun qt sering bgd ML gtu  hehehe. . .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/431037749882370099-483010111112025936?l=bangsis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/483010111112025936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/imut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/483010111112025936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/483010111112025936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/imut.html' title='imut'/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099.post-2943583408922738805</id><published>2010-11-09T04:43:00.000-08:00</published><updated>2010-11-09T04:43:39.091-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.contohskripsitesis.com/.../Relasi%20berbagai%20pihak%20lepasnya%20timor%20leste.doc"&gt;download&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/431037749882370099-2943583408922738805?l=bangsis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/2943583408922738805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/download.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/2943583408922738805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/2943583408922738805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/download.html' title=''/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099.post-3091303679999144069</id><published>2010-11-09T04:42:00.001-08:00</published><updated>2010-11-09T04:42:13.757-08:00</updated><title type='text'>lepassnya timur-timur</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Body Text Indent"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Normal (Web)"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Introduksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Segala sesuatu yang terlibat aktif dalam kekuatan politik tertentu dapat disebut sebagai kekuatan politik. Maka segala sesuatu yang berperan dan berpengaruh didalam dunia politik Indonesia dapa dikatakan sebagai kekuatan politik Indonesia. Kekuatan politik dapat dibagi lagi menjadi 2 yaitu, yang terorganisir dan yang tidak terorganisir. Sekumpulan orang yang berkepentingan dalam sejumlah isu penting, kemudian yang mempunyai pemikiran atau ideologi yang sama akan saling mempengaruhi satu sama lain dalam interaksi yang dilakukan sehingga nantinya akan menghasilkan suatu keputusan atas persepsi bersama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: 2pt; text-indent: 31.5pt;"&gt;Kekuatan politik sangat berperan didalam sistem politik di Indonesia. Ada banyak kekuatan politik di Indonesia, namun yang benar-benar berpengaruh dan menonjol hanya beberapa saja. Kekuatan-kekuatan politik tersebut adalah TNI atau ABRI, POLRI, organisasi kecendekiaan, lembaga-lembaga pendidikan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pers, organisasi penelitian, kekuatan politik yang tersebar di daerah-daerah, kelompok kemasyarakatan yang berbasis pada Agama (NU, Muhammadiyah, dll), buruh dan pekerja, mahasiswa, partai-partai politik, dan masih banyak lagi kekuatan-kekuatan politik lainnya di Indonesia. Kekuatan politik Indonesia dapat berupa institusi maupun individu. Contoh kekuatan politik individu yang ada di Indonesia adalah seperti Gusdur. Meskipun beliau tergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU), namun beliau mempunyai pengaruh tersendiri dalam dinamika politik di Indonesia di luar organisasi itu sendiri. Selain itu beliau juga merupakan orang yang pernah menjabat menjadi orang nomor satu di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: 2pt; text-indent: 31.5pt;"&gt;Kekuatan politik juga dapat dilahirkan oleh suatu peristiwa penting yang terjadi di sebuah negara sehingga mempengaruhi hal-hal yang berkaitan dengan dunia politik. Dengan adanya suatu peristiwa penting dalam sebuah negara, sebenarnya dampak yang dihasilkan bisa berupa berbagai macam. Suatu peristiwa penting tidak hanya dapat melahirkan sebuah kekuatan politik baru atau setidaknya menjadi alasan bagi kemunculan kekuatan politik baru, tetapi dapat juga menghancurkan suatu kekuatan politik yang ada saat itu. Di Indonesia sendiri ada berbagai contoh dari lahirnya maupun runtuhnya sebuah kekuatan politik. Dalam suatu peristiwa dimana ada sebuah kekuatan politik yang hancur, pasti akan ada kekuatan politik baru yang menjadi menggantikannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: 2pt; text-indent: 31.5pt;"&gt;Di Indonesia dapat dilihat dari peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965 yang ketika itu berencana mengkudeta pemerintahan. Ketika itu PKI merupakan sebuah kekuatan politik yang berpengaruh besar di Indonesia sebagai negara yang mengusung ideologi nasionalis, sosialis, dan komunis. Begitu banyak kekuatan politik Indonesia saat itu yang merasakan dampak dari pemberontakan PKI ketika itu. Setelah pemberontakan berhasil diredakan, aliran komunis dilarang oleh negara sehingga PKI pun dibubarkan. Negara tidak dapat bangun dari krisis moneter yang panjang dan pergolakan semakin tidak dapat dikontrol oleh Soekarno, yang menjadi pemimpin bangsa ketika itu. Sehingga pada akhirnya Soekarno mundur dan digantikan oleh Soeharto dan sejak tahun 1966 mulailah sebuah rezim baru. Dalam peristiwa itu, 2 kekuatan politik runtuh atas dampak jangka panjang dari pemberontakan dan kekuatan politik yang lainnya kemudian ‘naik daun’ dan menggantikan posisi yang ditinggalkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: 2pt; text-indent: 31.5pt;"&gt;Dalam peristiwa runtuhnya sebuah rezim pasti akan memberikan sedikit banyak pengaruh bagi kekuatan politik tertentu. Seperti ketika rezim Orde Baru pimpinan Soeharto runtuh, hal tersebut tentunya sangat berpengaruh pada Partai Golongan Karya (Golkar) yang selama ini selalu berdiri di belakangnya. Pengaruhnya bisa berbagai macam hal, salah satunya dengan munculnya partai-partai baru yang berakibat menurunnya pendukung Golkar sehingga berakibat pada berkurangnya kursi yang didapat di pemerintahan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Subjek yang akan dibahas dalam makalah ini menyangkut sebuah peristiwa penting yang terjadi di Indonesia pada tahun 1999 ketika B.J. Habibie menjabat sebagai Presiden RI ke-3 atas mundurnya Soeharto. Peristiwa ini sangat penting karena menyangkut keputusan Habibie mengenai kesatuan RI. Ketika itu gerakan separatis sedang marak berlangsung di Timor Timur dan rakyatnya menuntut agar Timor Timur mendapat otonomi khusus (luas) dari pemerintah pusat. Hal itu kemudian direspon oleh Habibie, pada masa jabatannya yang kurang dari 2 tahun, dengan membuat keputusan penting yaitu mengeluarkan referendum dengan opsi merdeka. Keputusannya ini berakbat fatal pada dirinya sendiri dan Indonesia tentunya, banyak pihak yang mengemukakan pendapatnya baik yang mendukung maupun yang mengecam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sejarah Penjajahan Timor Timur&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Sejak dulu Timor Timur selalu menjadi wilayah jajahan. Dahulu Timor Timur merupakan wilayah jajahan Portugis dan sempat pula menjadi daerah jajahan Belanda. Dari dulu sampai tahun 2002, Timor Timur selalu berada dibawah pemerintahan suatu negara. Berawal dari kedatangan Portugis pada tahun 1515 dan sejak tahun 1700-an eksploitasi kekayaan alam Timor Timur pun dimulai. Masyarakat Timor Timur pada akhirnya berhasil mengusir tentara Portugis pada tahun 1912. Pada masa Perang Dunia ke-2, Timor Timur bahkan pernah diokupasi oleh tentara Australia dan Belanda untuk digunakan sebagai daerah aman untuk berlindung meskipun Portugis berkeberatan atas hal ini. Tahun 1942 sampai September 1945, pemerintah Jepang datang untuk menginvasi dan mengeksploitasi kekayaan daerah tersebut. Sejak itu Portugis berusaha membangun kembali Timor Timur namun perkembangannya sangat lamban. Perubahan besar terjadi pada tahun 1974, saat itu Portugis berada dalam proses transisi menuju demokrasi, hal ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya dengan memperbolehkan rakyat Timor untuk mendirikan partai politik. Dengan kebijakan baru dari pemerintahan Portugis maka berdirilah 2 partai di Timor Timur yaitu, Uni Demokrat Timor (UDT) dan Frente Revolucionara Do Timor Leste Independente (Fretilin).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Berbagai peristiwa terjadi sejak ke-2 partai ini terbentuk. Tanggal 11 Agustus 1975, dengan dukungan dari pemerintah Indonesia, UDT melakukan kudeta untuk merebut kekuasaan dari Portugis dan Fretilin. Ketika keadaan menjadi kacau, anggota UDT pergi ke Timor bagian barat dan pemerintahan Portugis pun meninggalkan Dili, dengan keadaan seperti ini Fretilin lah yang menguasai Timor Timur. Dengan Fretillin yang memegang kuasa atas Timor Timur, pada tanggal 28 November 1975, partai tersebut mendeklarasikan berdirinya Republik Demokrat Timor Leste. Kejadian tersebut membuat keadaan di Timor Timur menjadi kacau, kemudian pemerintah Indonesia berusaha membantu meredakan ketegangan dan kekacauan yang ada dengan mengirimkan tentaranya. Ketika itu diperkirakan 60.000 orang menjadi korban atas kekacauan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tanggal 30 November 1975, rakyat Timor Timur, atas kehendaknya sendiri, menyatakan keinginannya untuk berintegrasi dengan Indonesia dalam Deklarasi Balibo. Keinginan ini dipenuhi oleh pemerintah Indonesia dan diperkuat melalui&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Undang-Undang No. 7/1976 dan Ketetapan MPR No. 6/1978. Sejak itu, Timor Timur pun menjadi bagian dari Indonesia, meskipun masih dirasakan sebagian masyarakat masih belum terbiasa dengan integrasi tersebut. Deklarasi tersebut berisi tanda tangan sejumlah wakil rakyat Timor Timur yang menyatakan bahwa mereka ingin bergabung menjadi bagian dari NKRI. Meskipun dikatakan hal tersebut merupakan keputusan rakyat Timor Timur untuk berintegrasi, namun tetap ada beberapa pihak yang menyangsikan hasil dari konferensi ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak menganggap proses integrasi Timor Timur dengan Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Balibo dan Undang-Undang, sebagai sesuatu yang sah. PBB tetap menganggap Timor Timur sebagai wilayah persemakmuran Portugis dan pada akhirnya dianggap sebagai wilayah yang belum memiliki pemerintahan sendiri dan belum melaksanakan hak menentukan nasib sendiri. Keputusan untuk berintegrasi tersebut dianggap sebagai keinginan Indonesia saja, bukan sebagai kehendak rakyat Timor Timur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Habibie Sebagai Presiden RI ke-3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Pada pemilu tahun 1997, dengan kemenangan mutlak Partai Golkar, maka Soeharto kembali diangkat menjadi Presiden RI, untuk yang kesekian kalinya, dan Bacharudin Jusuf Habibie diangkat menjadi wakil presiden. Ketika itu sistem yang diberlakukan bukan sistem pemilihan langsung seperti yang berlaku saat ini. Presiden dan wakil presiden dipilih melalui pengumpulan suara yang dilakukan oleh anggota MPR/DPR.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saat itu Indonesia sedang berada pada kondisi kritis. Rakyat semakin tidak percaya pada pemerintah dan keadaan bergejolak dengan banyaknya protes terhadap pemerintah. Pada pemilu tahun 1997, Golkar menang telak dari partai-partai saingannya, sehingga jumlah kursi yang didapat dalam MPR/DPR pun menjadi lebih banyak. Hal ini kemudian memudahkan Soeharto dan Habibie untuk menjadi presiden dan wakilnya, sebagai kandidat yang didukung Golkar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah pemilu usai dan kursi pemerintahan telah ditetapkan, keadan semakin kritis karena tidak ada perubahan baik yang terjadi. Puncaknya pada bulan Mei 1998, dimana para mahasiswa, yang didukung pula oleh rakyat, turun ke jalanan untuk melakukan demonstrasi demi menuntut mundurnya Soeharto. Tuntutan mahasiswa akhirnya terpenuhi ketika Soeharto akhirnya mundur dari jabatannya. Maka atas wewenang MPR, BJ Habibie diangkat menjadi Presiden RI untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Ketika Habibie menjabat menjadi presiden, seringkali hari-hari diwarnai oleh demonstrasi. Demonstrasi itu mendesak Habibie untuk merespon tuntutan reformasi dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Rakyat menginginkan kebebasan pers, kebebasan berpolitik, kebebasan rektrutmen politik, kebebasan berserikat dan mendirikan partai politik, kebebasan berusaha, dan berbagai kebebasan lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Tuntutan reformasi tersebut direspon Habibie dengan melepaskan tahanan-tahanan politik yang ditangkap selama Soeharto menjabat Presiden, bahkan tahanan PKI pun dilepaskan. Tidak hanya membebaskan para tahanan, Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) pun dibebaskan. Bersama DPR yang masih mayoritas tunggal Golkar hasil Pemilu 1997, Habibie mengesahkan banyak undang-undang, di antaranya tentang Partai Politik (multipartai) dan undang-undang tentang Otonomi Daerah. Selain itu diselenggarakan pula Sidang Istimewa MPR yang menghasilkan keputusan untuk mengambil ketetapan mempercepat Pemilu. Sidang tersebut juga membahas masalah tentang pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme yang selama ini sangat kental dalam pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Dengan berakhirnya masa Orde Baru dan berawalnya era reformasi, rakyat mengajukan berbagai tuntutan kebebasan. Rakyat Timor Timur pun ketika itu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menuntut otonomi daerah khusus atau luas. Tuntutan ini kemudian direspon Habibie melebihi apa yang dituntut rakyat Timor Timur dengan mengeluarkan referendum opsi merdeka. Keputusannya ini tidak hanya dipertanyakan, bahkan sampai dikecam oleh berbagai kalangan. Tanggal 29 Januari 1999 itu merupakan hari&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang menentukan bagi rakyat Timor Timur.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Banyak pihak yang mengecamnya, bahkan ada yang berspekulasi bahwa Habibie ingin meraih hadiah Nobel Perdamaian atas keputusannya mengenai Timor Timur. Dari sekian banyak sepak terjang kontroversialnya, kasus lepasnya Timor Timur agaknya menjadi suatu keputusan fatal bagi seorang presiden yang sesungguhnya telah bersumpah dan berkewajiban mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dianggap sebagai suatu kesalahan yang sangat sulit untuk dimaafkan secara politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Sebenarnya keputusan habibie mengenai opsi merdeka pada wilayah Timor Timur tidak sepatutnya disalahkan sepenuhnya. Selama ini pemerintahan Indonesia telah berada di bawah rezim Soeharto selama hampir 32 tahun, di masa itu segala tindakan yang dianggap membahayakan rezim yang berkuasa langsung ditindak tegas oleh hukum. Segala sesuatu dikontrol secara berlebihan, sehingga kebebasan berpendapat menjadi hal yang langka dan sangat berharga. Berbagai aktivis yang menentang pemerintah langsung ditindak secara hukum dengan sangat tegas, sementara pada masa Orde Baru praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme sangat kental dalam setiap sendi pemerintahan. Pada masa itu, masyarakat berada pada kesenjangan sosial yang sangat parah. Orang yang kaya semakin kaya, dibantu relasi yang kuat dengan campur tangan pemerintah, dan yang miskin seperti tidak diberi peluang untuk memperbaiki kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Keadaan Indonesia semakin kacau dengan hutang pinjaman luar negri yang semakin membengkak. Dana pinjaman dari IMF, yang dikatakan untuk berbagai bidang kehidupan, terus mengalir entah kemana tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas. Hal ini menyebabkan hutang semakin menumpuk tanpa ada kesanggupan untuk melunasinya sehingga kita semakin ketergantungan. Dengan sifat yang konsumtif tentunya akan sulit untuk membangun kembali perekonomian dan pemerintahan Indonesia yang sudah ‘tercemar’.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Ketika pada akhirnya rezim Soeharto runtuh, ditandai dengan pengundurandirinya sebagai presiden RI, untuk yang kesekiankalinya, maka era bagi pemerintahan baru pun diharapkan bisa memperbaharui segala kekacauan yang ada selama ini. Rakyat berharap banyak pada pemerintahan baru pimpinan Habibie, berbagai tuntutan kebebasan pun diajukan. Dengan perubahan situasi yang begitu cepat, Habibie sebagai seorang presiden diharapkan bisa memenuhi harapan rakyat. Dalam situasi transisi era pemerintahan tersebut, muncul tuntutan rakyat Timor Timur atas peluasan otonomi daerahnya. Dengan berbagai tekanan yang datang, bahkan dari dunia internasional, Habibie diharapkan memberi keputusan yang bijaksana. Akhirnya setelah mempertimbangkan segala aspek yang ada, ia mengeluarkan referendum yang berisi opsi merdeka bagi rakyat Timor Timur.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Dilihat dari satu sisi, keputusan Habibie atas tuntutan Rakyat Timor Timur tersebut memang fatal. Setelah bertahun-tahun berbagai pihak yang bergerak atas nama Indonesia berusaha untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan negara ini, keputusannya memang terlihat seperti menganggap remeh segala yang telah diusahakan. Layaknya, dengan mudahnya ia seperti memberi jalan salah satu provinsi NKRI ini untuk merdeka. Bahkan TNI mengemukakan kekecewaannya secara terbuka atas keputusan itu. Hal ini dikarenakan TNI selama ini telah berusaha meredam gerakan-gerakan separatis yang ada secara langsung, sementara pemerintah melakukannya melalui jalan diplomasi. Masyarakat luas pun melakukan demonstrasi atas hal ini, menyatakan tanda tidak setuju dan menuntut Habibie agar tidak melepaskan Timor Timur apapun yang terjadi. Habibie kemudian merespon tuntutan ini dengan mengeluarkan refendum. Begitu banyak pihak yang kecewa dan mengecamnya atas keputusan tersebut. Meskipun ia berhasil melaksanakan pemilu yang cukup demokratis pada tahun 1999, dampak atas keputusannya mengenai Timor Timur mengalami puncaknya ketika pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak dalam Sidang Umum MPR.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Bila kita melihat keputusan Habibie tersebut dari sudut pandang lain, dapat dimengerti bahwa sebenarnya Habibie hanya ingin menghilangkan tekanan dari dunia internasional terhadap Indonesia. Dunia internasional dan PBB menekan Indonesia dengan anggapan bahwa Indonesia memaksakan kehendak atas keputusan integrasi Timor Timur terdahulu. PBB mendesak pemerintah Indonesia untuk segera memberikan solusi terbaik bagi masalah Timor Timur.&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;Dalam situasi yang mendesak tersebut, Habibie mengeluarkan referendum bagi rakyat Timor Timur dengan 2 pilihan, tetap bergabung dengan NKRI dan diberi otonomi daerah luas atau memisahkan diri dari NKRI dan merdeka. Habibie mengeluarkan referendum tersebut dengan keyakinan bahwa rakyat Timor Timur akan memilih untuk tetap bergabung bersama Indonesia. Selain itu, motivasi lain yang mendorongnya member keputusan penting seperti itu adalah agar masyarakat dunia dan PBB dapat melihat dengan jajak pendapat yang dilakukan bahwa rakyat Timor Timur memang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masih berkeinginan untuk menjadi waraga negara Indonesia. Ia berharap, dengan begitu dunia internasional dan PBB dapat menerimanya dengan baik agar Indonesia tidak terus ditekan sebagai negara yang hanya menginvasi Timor Timur semata.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perspektif PBB dan Dunia Internasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sejak integrasi Timtim dipermasalahkan, baik di Dewan Keamanan (1975-1976) maupun di Majelis Umum PBB (1975 sampai sekarang dan kemudian mengalami penundaan sejak 1981), Indonesia selalu berusaha agar PBB dan masyarakat internasional mengakui legalitas integrasi Timtim kepada Indonesia melalui Deklarasi Balibo 30 November 1975.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; border: medium none;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 6.15in;" valign="top" width="590"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;Untuk   mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus   Paid Member&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 2pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/431037749882370099-3091303679999144069?l=bangsis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/3091303679999144069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/lepassnya-timur-timur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/3091303679999144069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/3091303679999144069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/lepassnya-timur-timur.html' title='lepassnya timur-timur'/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099.post-8397842835963098988</id><published>2010-11-09T04:41:00.001-08:00</published><updated>2010-11-09T04:41:39.856-08:00</updated><title type='text'>wow</title><content type='html'>Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester VI di salah satu PTS di Bandung. Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.&lt;br /&gt;Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu Vivin namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Vivin bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa yok? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”&lt;br /&gt;“Itu apanya Bu?” tanyaku.&lt;br /&gt;Memang dalam kesehari-harianku, ibu Vivin tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,&lt;br /&gt;“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.&lt;br /&gt;“Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Vivin.&lt;br /&gt;Begitu dekatnya aku sama Ibu Vivin sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Vivin. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.&lt;br /&gt;“Eh Ibu Vivin, nggak ngajar Bu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.&lt;br /&gt;“Habis sakit Bu”, kataku.&lt;br /&gt;“Sakit apa sakit?” goda Ibu Vivin.&lt;br /&gt;“Ah.. Ibu Vivin bisa aja”, kataku.&lt;br /&gt;“Sudah makan belum?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Belum Bu”, kataku.&lt;br /&gt;“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.&lt;br /&gt;Dengan cekatan Ibu Vivin memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Vivin nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.&lt;br /&gt;“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.&lt;br /&gt;“Oh kalau gitu Ibu Vivin masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.&lt;br /&gt;“So pasti dong”, katanya.&lt;br /&gt;“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya aku nyeletuk.&lt;br /&gt;“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Vivin agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Vivin kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.&lt;br /&gt;“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vivin”, kataku.&lt;br /&gt;“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.&lt;br /&gt;Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Vivin terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Vivin”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.&lt;br /&gt;Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah.. cup.. cup.. cup..” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.&lt;br /&gt;“Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Vivin aja ya!&lt;br /&gt;Kubisikkan Ibu Vivin, “Vivin kita ke kamarku aja yuk!”.&lt;br /&gt;Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. “Ah.. ssh.. terus Ian”, Ibu Vivin tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah.. ssh..” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah.. aku juga sudah mulai terangsang.&lt;br /&gt;Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah.. uh.. ssh.. Ian kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Vivin juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh.. besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, “Uuh.. uh.. shh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah.. uh.. ssh.. terus Ian”, Vivin mengerang. “Aku juga enak Vivin”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh.. oh.. ah.. Vivin terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk.. uh.. ssh..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.&lt;br /&gt;Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Ian, aku masih perawan”, katanya. “Haa..” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, “Aahk..” teriak Vivin, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Vivin.. “Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Ian”, katanya. “Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh..” kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan.. “Crot.. crot.. cret..” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh..” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Ian?” tanyanya. “Ah nggak, kitakan sama-sama mau.” Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Vivien menjadi pacar gelapku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/431037749882370099-8397842835963098988?l=bangsis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/8397842835963098988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/wow.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/8397842835963098988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/8397842835963098988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/wow.html' title='wow'/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-431037749882370099.post-2358440207928639682</id><published>2010-11-09T04:40:00.001-08:00</published><updated>2010-11-09T04:40:53.089-08:00</updated><title type='text'>wew</title><content type='html'>cerita ini ku tulis bedasarkan kisah peribadi ku bukan ada ada ataupun rekayasa&lt;br /&gt;tangal 2 juli adalah hari jumat di mana aku smsan sama cwek ku yang sekarang skolah kelas 3 sma di pekanbaru,&lt;br /&gt;dulu seh dia smp na di medan tapi karena sma nya di pndah ke pkanbaru&lt;br /&gt;jadi waktu hari jumat pagi saya sms sama dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya(b) : huy kpan ke medan lagi saya kangen neh sama kamu yank&lt;br /&gt;cwek ku(a) : nantik mlaam beb jadi&lt;br /&gt;(b) oooo berarti sampai malam pagi sabtu donk&lt;br /&gt;(A) iya....!!!!&lt;br /&gt;(b)nantik jamberapa samapai nya kira kira ke mdan beb&lt;br /&gt;(a) sabtu pagi lah&lt;br /&gt;(B) nantik saya jmput ya !!!&lt;br /&gt;(A) ya klu dah sampai nantik saya sms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu kata dia ya sudah saya akhir nya kerja dan malam malam kami smsan lagi&lt;br /&gt;sampai ketiduran&lt;br /&gt;pas jam 5 pagi cwek ku tpon kata na dah sampai&lt;br /&gt;trus aq tanyak kok cpat sampai iya mobil nya ngebut kata nya!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jujur sudah lama kami tidak ML bareng&lt;br /&gt;jadi aku jmput dia langsung pagi" jam 5 kami ke hotel se belum pulang&lt;br /&gt;saya suruh dia masuk hotel dan dia mau&lt;br /&gt;tanpa bnyak basa basi saya mencium bibir cwek ku dan ku ramas dada nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dia pun tak kuasa menahan lalu aku pun buka celana ku suruh pegang" dan dia isap isap itu penis ku sampai keluar sperma nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;toh rupa nya tak keluar keluar&lt;br /&gt;tak sabar dia sendiri yang masukin penis ku ke vagina na dia jadi saya tingal duduk santai saja tanpa harus mengoyang karena dia sudah lihay dalam mengoyang&lt;br /&gt;sampai monnccccrooootttt dan anus ku dan sperma ku habis di isap dia dan di telannya dia memang cwek yang super bagi ku&lt;br /&gt;karena dia tau yang ku mahu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/431037749882370099-2358440207928639682?l=bangsis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangsis.blogspot.com/feeds/2358440207928639682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/wew.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/2358440207928639682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/431037749882370099/posts/default/2358440207928639682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangsis.blogspot.com/2010/11/wew.html' title='wew'/><author><name>wow</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03086229657965040116</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
